Para pembaca yang budiman dan baik hati, saya mau berbagi sedikit nih cerita tentang penelusuran menuju puncak gunung cikuray (wiki), yang kami lakukan saat open trip ke Gunung Cikuray garut, jawa barat. Entah mau mulai darimana yang pasti cerita ini adalah hiking yang paling berkesan & greget menurut beberapa dari kami karena apa? Cekidot, silahkan membaca dengan santai dan jangan lupa membaca Bismillah :D.

  • Tentang Gunung Cikuray

Seperti yang kakang-kanag dan teteh-teteh tahu puncak gunung cikuray merupakan salah satu gunung yang cukup terkenal di kalangan pendaki khususnya di daerah jawa Barat, Memiliki ketinggian 2821 MDPL dan merupakan gunung tertinggi ke-empat di jawab barat setelah gunung Ciremai, pangrango dan gunung gede. oke sebelum lanjut meneruskan cerita saya memberitahukan cerita saya ini bukan untuk Informasi perjalanan atau itinerary open trip ke cikuray ya gais(karena saya rasa kalau untuk informasi tersebut sudah lebih banyak yang share dan lebih lengkap), saya hanya bercerita mengenai pengalaman menarik kami saat melakukan pendakian ke Cikuray.

  • Awal Perjalanan

Penelusuuran kami ke gunung cikuray merupakan trip ke-dua kami, dengan jumlah 11 Orang kami berangkat dari cilegon menggunakan mobil pribadi (Rental lebih tepatnya, haha), memakan waktu hampir 7 jam perjalanan akhirnya kami sampai di kota garut, sempat kebinungan kearah mana perjalan kami, karena rencana awal kami akan melakukan pendakian melalui jalur umum yaitu jalur Pemancar namun karena keterbatasan informasi akhirnya kami sampai di suatu tempat dan ternyata kami salah lokasi, yang kami sambangi adalah jalur cikajang yang merupakan jalur yang belum biasa & belum banyak melakukan pendakian melalui jalur tersebut, kami sempat agak ragu dan berdiskusi cukup lama untuk memutuskan melanjutkan pendakian memalui jalur pemancar atau dari jalur cikajang akhirnya karena waktu takut semakin siang kami memutuskan tetap melalui jalur Cikajang, saya sempat mengobrol 2 sedikit ke warga sekitar salah satunya bilang “Mau ke cikuray ya dek? Jalur sini mah jarang ada yang lewatin paling setahun Cuma 2 atau 3 rombongan aja”. dalam hati saya berkata “waahhhh kacau baru pertama kali ke sini udah lewat jalur yang masih asing nih”, agak ragu namun akhirnya kami melakukan pendakian pukul 10 pagi.

  • Awal Pendakian

Nahhh kisah menarik pun di mulai dari saat pertama pendakian, dari info yang kami dapat di cikuray agak susah untuk persediaan air. Akhirnya kami membawa bekal air dari bawah, berbekal kompan yang kami bawa dengan ukuran 20 liter, sekitar 1 jam perjalanan melewati jalur kebun kentang yang sangat luas, sesaat baru mau masuk hutan kami di serang beberapa ekor lebah hutan yang cukup besar, hingga akhirnya salah satu anggota wanita kami terkenta sengat di bagian kepala hingga lebam, untungnya (masih aja untung :D) bisa melanjutkan perjalanan walaupun sambil menangis. 3 jam perjalanan kami memutuskan untuk rehat sejenak untuk Coffee break dan mengisi perut dengan makanan, sekitar jam 2 siang kami melanjutkan perjalanan di jalur ini memang cukup berat dan hampir tidak ada “Bonus” atau tanah landai, jadi bagi kalian yang memutuskan ke cikuray melalui jalur ini siap-siap karena ini benar2 pendkian dada ketemu dengkul. kami pun haru melewati tebing yang sangat curam dan terjal dengan ketinggian sekitar kurang lebih 5 meter, susah payah kami bergantian melewatinya dengan beban bawaan masing yang lumayan dan di tambah bonus air 20 liter. Setelah berhasil melewati tebing tersebut kami break sejenak karena sudah memasuki waktu Ashar, setelah itu melanjutkan kembali perjalanan yang lagi2 hampir tidak ada “Bonus”. Memasuki waktu Maghrib akhirnya kami menemukan “Bonus” yang senangnya seolah2 menemukan sungai di tengah gurun pasir, hehe.

  • Bertemu orang misterius

Memasuki waktu malam ditengah kondisi fisik yang mulai menurun karena dingin semakin menusuk dan hanya ada 1 rombongan kami yang melalui jalur tersebut keadaan pun semakin agak mencekan saat kami semua mendengar dari kejauhan seperti ada orang teriak2 minta tolong, namun anehnya suara tersebut semakin lama semakin dekat dengan ditambah suara2 seperti orang tertawa menakutkan dan suara gaduh lainnya, beberapa anggota kami pun sempat merasa ketakutan dan tidak ingin ada yang berada di baris paling belakang, dengan beberapa wajah anggota yang ketakutan kamipun sedikit mempercepat langkah kami namun suara gaduh tersebut semakin cepat pula mendekat ke arah kami, lalu saya pun memutuskan untuk bilang ke temen2 untuk berhenti dulu menunggu apa yang akan muncul ke arah kami, dengan perasaan takut pula namun saya memberanikan diri untuk berada paling belakang (walaupun sedikit bergetar karena takut, haha). Tak berapa lama kemudian muncul cahaya2 dan kami pun dengan seksama melihat dan menunggu apa sebenarnya itu, karena kami panggil2 tidak ada yang menjawab padahal jarak sudah semakin dekat, cahaya pun sewaktu2 menghilang dan muncul lagi, akhirnya makin dekat, makin dekat, cahaya itu pun mati dan semua senter kami diarahkan ke bawah untuk melihat, beberapa detik kemudian ada terdengar suara langkah kaki dan suara obrolan seperti berbisik2, saat tiba2 kami terkejut dengan suara lantang dari arah bawah dengan berteriak ASSALAMUALLAIKUM!!!! Ternyata daritadi yang kami khawatirkan adalah ranger cikuray (2 orang) yang merupakan penduduk asli kampung situ, dalam hati ingin rasanya bilang “Dasar Kampret! Bikin orang khawatir aja lu!” haha.

  • Happy Ending

Akhirnya kami pun melanjutkan perjalanan bersama-sama, belum lama melanjutkan perjalanan salah satu anggota wanita kami (yang tadi tersengat tawon) tiba2 pingsan, namun setelah dicek ternyata masih sadar namun karena kondisi fisik yang sangat lemah mungkin masih ada efek tersengat lebah dan ditambah mempercepat langkah karena ada suara2 aneh tadi barang kali makanya kondisi drop, kami ingin menunggu sampai kondisinya benar2 pulih baru memutuskan melanjutkan perjalanan atau stay di tempat sampai pagi, akhirnya salah 1 anggota kami berinisiatif untuk menggendong wanita yang pingsan tadi, Setrong men!. Sampai sekitar 1 jam akhirnya kami sampai ke tempat yang di namakan “Hutan Mati” nahh, mungkin jika kakang2 atau teteh2 mendaki memalui jalur pemancar tidak akan menemui tempat ini, memang hutan mati yang kami temui tidak seluas seperti yang berada di Papandayan, akhirnya kami memutuskan untuk camping di hutan mati untuk memulihkan tenaga sebelum subuh melanjutkan untuk ke puncak Cikuray, total perjalanan kami 11 jam (ini belum termasuk ke puncak).

Setelah istirahat cukup, kami pun prepare untuk menuju puncak gunung. Namun beberapa anggota memutuskan tidak ikut summit dan stay di tenda, dari hutan mati ke puncak butuh waktu sekitar 40 menit-an. Setelah sampai puncak di sana sudah lumayan penuh dengan pendaki / rombongan lain yang tentunya tidak sejalur dengan kami, Namun semua kelelahan yang kami lalui sangat terbayar dengan keindahan sunrise dan lautan awan yang berada di bawah kami, cikuray memang cukup terkenal dengan samudera di atas awannya, sungguh kelelahan yang tidak sia-sia.

Well mungkin itulah cerita pengalaman saat penelusuran Gunung Cikuray yang banyak ceritanya, untuk diri pribadi sih Cikuray jalur Cikajang ini sih yang paling berat yang pernah dialamin, hehe. Anyway thanks udah mau baca cerita dan pengalaman saya dan teman2 KOPAC ADVENTURE , sampai berjumpa lagi di cerita-cerita pengalaman trip lainnya.